Miguel baru saja menerima pesan singkat dari salah satu penghuni kos. Isi pesannya membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Perasaan tak nyaman mulai merayap di benaknya. Ia baru saja selesai membeli makan siangnya, tetapi makanan di tangannya sekarang terasa tidak penting. Yang ada di pikirannya hanyalah satu hal— William.
Seiring dengan kekhawatiran yang terus bertambah. Pikiran Miguel mulai dipenuhi bayangan tentang apa yang mungkin terjadi di antara William dengan teman perempuannya itu.
Kecemasan itu seakan membungkusnya erat. Ada sesuatu yang salah, ia bisa merasakannya di tiap detik yang berlalu. Dengan perasaan yang bercampur— Miguel bergegas pulang.
Begitu ia tiba di kamarnya, matanya langsung menangkap dua gelas minuman yang terletak rapi di atas meja. Miguel yakin, bahwa William yang membuatnya. Tanpa menunggu lebih lama, Miguel meninggalkan kamarnya. Satu tujuan yang ada di kepalanya saat ini hanyalah, menemui William.
Dengan napas sedikit tersengal, ia sampai di depan rumah William. Tak ada salam ataupun ketukan. Miguel langsung merangsak masuk, matanya dengan cepat mencari sosok sang kakak. Ruangan itu tenang, hampir terlalu tenang. Hanya ada suara samar yang Miguel yakin suara tersebut berasal dari TV.
Dan di sana, di sofa, William duduk terpaku pada layar. Film horror yang sedang ia tonton itu jelas bukan untuk hiburan, tetapi untuk mengalihkan pikirannya. Miguel bisa merasakannya.
William berusaha menghindar dari rasa sakitnya, berusaha melarikan diri dari apa yang baru saja terjadi.
Perkataan Gita tadi masih menghantui William, menamparnya dengan kenyataan pahit yang tak bisa ia bantah. Gita tak sepenuhnya salah— dirinya mungkin memang brengsek.
Dia tau itu, dia jelas tau apa yang telah ia lakukan pada Miguel. Tapi menghadapinya? itu terasa seperti beban yang terlalu berat baginya. Itulah sebabnya ia tenggelam dalam film horror yang saat ini sedang ia tonton, sambil mencoba menahan air mata yang sudah sejak tadi menggenang di sudut matanya.
Tubuh Miguel kini sudah berada di depan yang tua, berdiri menghalau pandangan Willam. Air wajahnya terlihat penuh kekhawatiran.
“Kak? lu nggak apa-apa?” tanya Miguel sambil berlutut, suaranya lembut. Tangannya naik membelai surai yang tua. “Lu kenapa nggak bales chat gue? Gita ngomong apa ke lu kak?”
William teranjak, ia benar benar tidak mendengar sedikitpun jika ada seseorang yang masuk “Gu? kok— ngapain kesini?”
“Jawab pertanyaan gue, kak”
“Jawab apa?” William mengalihkan.
“Kak? mba Gita ngomong apa? Lu kenapa pulang?”
“Gapapa—” jawabnya, kini suaranya mulai bergetar. Saat ini, Miguel jelas tau William sedang berbohong.